Jumat, 10 September 2010
 
  Home arrow Blog Artikel arrow Newsflash arrow 90 Persen Pengusaha Jalankan Bisnis Keluarga
Designed by JasaOnline.Com
 
Layanan Jasa
Advertisement | Close
DAPATKAN!! ratusan KOMPILASI CONTOH-CONTOH KONSEP PERJANJIAN DAN AKTA NOTARIS (KOMPARISI) dalam format  MS-WORD dan WORDSTAR.  Anda tinggal DOWNLOAD, EDIT dan MODIFIKASI sesuai dengan kebutuhan bisnis anda. Klik di SINI untuk informasi lebih lanjut.
 
Main Menu
Home
Selayang Pandang
Hubungi Kami
Download Gratis
Blog Artikel
 
90 Persen Pengusaha Jalankan Bisnis Keluarga Cetak halaman ini dalam bentuk PDF Cetak halaman ini Kirim halaman ini kepada rekan Anda via E-mail

Mayoritas atau 90 persen pengusaha Indonesia merupakan eksekutif yang menjalankan bisnis keluarga dan mereka umumnya adalah generasi kedua dari keluarga tersebut. Meski menduduki tampuk pimpinan paling puncak diperusahaan itu, keputusan akhir tetap dipegang oleh orang tua terutama ayah sebagai pendiri perusahaan.

Demikian pendapat yang mengemuka pada acara diskusi bertema Economic Development: Does Entrepreneurship Matter? Yang diadakan oleh Ernst and Young di Jakarta, Rabu (10/7).

Karena keputusan akhir yang menentukan berada ditangan ayah selaku pendiri perusahaan, akhirnya pengusaha Indonesia lebih banyak hanya melaksanakan perintah ayahnya. Buka menapak dari awal dan mengejar impian.

“Berbeda dengan di Amerika Serikat (AS) misalnya, disana pengusaha berangkat dari upayanya untuk mengejar dan mewujudkan impiannya. Sementara disini, sekalipun dia memegang jabatan sebagai chief executif officer (CEO), dia harus mematuhi perintah ayahnya,” kata CEO PT Kushendry Asribusana, Jody Dharmawan.

Dalam diskusi juga muncul pendapat mengenai pentingnya sifat dan kemauan kewiraswastaan untuk  membantu mengatasi masalah pengangguran sekarang ini. Diungkapkan bahwa kunci mengatasi pengangguran bukan usaha konglomerasi yang meraksasa, melainkan cukup dengan mengembangkan usaha kecil menengah (UKM).

Namun, di Indonesia masih jarang orang yang berani mengambil risiko menjadi pengusaha, hanya karena mereka tidak mau mengalami kegagalan. Walaupun berpendidikan tinggi, mereka enggan terjun sebagai pengusaha dan memilih konsultan yang risikonya lebih kecil.

Selain itu, iklim bisnis di Indonesia sendiri dinilai masih diwarnai berbagai pungutan diluar keharusan. Seringkali perusahaan terpaksa ditutup hanya karena tidak mau memberikan suap atau memenuhi tuntutan pungutan dari oknum tertentu.

Diambil dari Kompas 11 Juli 2002

 

 
Google

© 2010::: JasaOnline.Com :::
This site is best viewed at any resolution pixel. All rights reserved

Get The Best Free Mambo Templates at www.peekmambo.com