|
Motif Berwirausaha (Bagian 1) |
|
|
|
|
Halaman 1 dari 3 Motif Berwirausaha (Bagian 1) Apa dan Bagaimana? Apa sebetulnya yang menggerakan orang-orang untuk memiliki usaha sendiri alias menjadi seorang wirausahawan? Dan bagaimana motif untuk berwirausaha itu muncul? Adakah hambatannya?
Pertanyaan ini kerap muncul ketika kita telah mengetahui kesuksesan yang diterima seseorang begitu muncul dalam televisi, buku atau majalah-majalah. Pengakuan (recognition) itu bukan lah sesuatu yang mudah didapatkan. Ditengah kondisi ekonomi bangsa ini yang belum bisa dibilang normal sepenuhnya, siapa lagi yang berani menjadi wirausahawan? Dalam sebuah survey yang dilakukan pada para mahasiswa di Harvard Business School, 80 % mahasiswa yang diwawancarai menyatakan bahwa mereka akan membangun bisnis sendiri kelak dengan satu alasan atau motif lust of power alias haus akan kekuasaan. Mereka yakin bahwa jika saja mereka punya power, mereka dapat melakukan segala sesuatunya lebih lancar dan lebih efisien. Dengan pengetahuan dan kemampuan yang dimiliki mereka ingin merubah cara pengerjaan sesuatu –apapun itu- dengan caranya dan mereka tahu yakin akan berjalan dan memberi hasil yang lebih baik. Kata power seperti disebut diatas, sebetulnya juga cerminan dari rasa ingin mandiri. Mandiri dalam arti mendapatkan kebebasan (freedom), baik kebebasan mengontrol diri sendiri, mengatur waktu dan mengatur kegiatan-kegiatan bisnisnya sendiri. Berapa banyak yang menginginkan ini? Banyak. Ingin bebas atau mandiri merupakan akibat adanya keterkungkungan atau keterbatasan yang diterima ketika kita (mungkin saat ini sedang) bekerja di kantor atau perusahaan. Rutinitas yang membosankan, kreativitas yang dihambat-hambat dan dimatikan, birokrasi yang panjang dan kaku, atau suasana kerja yang tidak enak, budaya (culture) perusahaan yang tidak cocok merupakan hal-hal yang bisa menciptakan motif dan mendorong orang untuk segera mencari kebebasan. Contoh nyata seperti yang dilakukan oleh Ir. Nurdin Tampubolon1 yang meninggalkan statusnya sebagai PNS Golongan III C, Eselon IV di Direktorat Jenderal Listrik dan Pengembangan Energi, Deptamben. Alasannya adalah kungkungan birokrasi yang menghamat gagasan dan kreat8ivitasnya, padahal ia merasa sebagai orang yang efektif dan efisien. Kini ia berhasil membangun PT. Sonvaldy Utama Permata, mempekerjakan sedikitnya 200 orang dan memiliki 4 cabang dikota besar Indonesia dan 1 di Singapura.
|