|
Motif Berwirausaha (Bagian 1) |
|
|
|
|
Halaman 3 dari 3 Begitulah, mimpi, cita-cita atau ambisis yang bisa dibilang hingga mendarah daging, dapat menyebabkan seseorang terjun kedunia wirausaha. Mengenai hal ini ada sebuah ungkapan yang baik :”if you have the strength to dream, you also have the strength to make the dream come true”. Apakah ada yang dapat mengurangi munculnya motif kita tesrebut? Ya ada. Terutama adalah bayang-bayang resiko yang akan dihdapai begitu kita putuskan untuk berwirausaha. Risiko itu berupa risiko finansial, seperti bakal tidak dapat gaji untuk beberapa saat, yaitu ketika bisnis belum lagi menghasilkan keuntungan. Sebetulnya ini lebih pada financial sacrifice (pengorbanan finansial) dibanding pada financial risk (resiko keuangan). Risiko yang lain adalah keluarga, karena akan banyak energi, emosi dan waktu yang akan dibutuhkan agar bisnis dapat berjalan sesuai dengan yang diharapkan. Juga resiko psikis, karena pada dasarnya perusahaan adalah mengelola manusia. Jadi akan banyak sekali waktu yang berhubungan dengan manusia yang kompleks, maka kepercayaan diri menjadi penting. Satu risiko lagi yang bakal muncul adalah karis, tentu saja tidak akan ada perjalanan karir tahap bertahap seperti yang mungkin dialami saat bekerja pada sebuah perusahaan. Karena kini menjadi owner apalagi setelah ini? Risiko karir yang lain adalah jika –ini jika- kemudian gagal dalam menentukan jenjang karir (posisi) yang baru jika mendapat pekerjaan lagi. Kini yang ada tinggal pilihan, kita tahu motif yang membuat kita menggebu-gebu menjadi seorang wirausahawan, tetapi kita juga tahu risiko yang akan dihadapinya. Mana yang lebih kuat? Yang pasti butuh keberanian, kekuatan dan kepercayaan diri yang besar dalam menentukan pilihan menjadi seorang wirausahawan.
|