|
Pengetahuan tentang makhluk-makhluk hidup secara umum dan manusia secara khusus belum lagi mencapai kemajuan seperti yang telah dicapai dibidang-bidang ilmu pengetahuan yang lain. Manusia adalah satu kesatuan yang tidak terpisahkan serta amat kompleks.
Sehingga tidak mudah untuk mendapatkan suatu gambaran untuknya, sebagaimana tidak ada suatu cara untuk memahami makhluk ini dalam keadaannya secara utuh maupun dalambagian-bagiannya, tidak juga dalam memahami hubungannya dengan alam sekitarnya. Sebenarnya manusia telah mencurahkan perhatian dan usaha yang sangat besar untuk mengetahui dirinya. Kendatipun kita memiliki perbendaharaan cukup banyak dari hasil penelitian para ilmuwan, filosof, sastrawan, dan para ahli di bidang keruhanian sepanjang masa ini. Namun kita hanya mampu mengetahui beberapa segi tertentu dari diri kita. Kita tidak dapat mengetahui manusia secara utuh, yang kita ketahui hanyalah bahwa dia terdiri dari bagian-bagian tertentu, dan ini pun pada hakikatnya dibagi oleh tata cara kita sendiri. Pada hakikatnya kebanyakan pertanyaan yang diajukan oleh mereka yang mempelajari manusia, diri mereka sendiri, hingga kini masih tetap tanpa jawaban, karena terdapat daerah-daerah yang tidak terbatas dalam batin kita yang tidak diketahui. Mengapa pengetahuan kita tentang manusia masih dalam tahap permulaan? Apakah hal ini disebabkan oleh suatu halangan sementara seperti kekurangan alat-alat ilmiah, ataau karena pondasi tertentu dalam sejarah kemanusiaan, ataukah akibat keterbatasan potensi manusia itu sendiri? Menjawab pertanyaan-pertanyaan diatas, DR. Alexis Carrel - ahli bedah peraih nobel kedokteran pada tahun 1912 - dalam bukunya yang terkenal Man Unknown mengatakan bahwa ada tiga faktor yang menjadikan pengetahuan kita tentang hakikat manusia yang sangat terbatas dibandingkan dengan pengetahuan kita dibidang-bidang yang lain. Ketiga faktor itu adalah, pertama, pembahasan tentang masalah manusia terlambat diadakan. Karena pada mulanya perhatian manusia hanya tertuju pada penyelidikan tentang alam materi, baik pada zaman primitif di mana nenek moyang kita disibukkan untuk menundukkan atau menjinakkan alam sekitarnya seperti pembuatan senjata, penemuan api, pertanian, peternakan, dan sebagainya. Hal ini membuat mereka tidak punya waktu luang untuk memikirkan atau membahas diri mereka sebagai manusia. Juga pada zaman kebangkitan (renaissance) dimana para ahli digiurkan oleh penemuan-penemuan baru mereka yang disamping menghasilkan keuntungan-keuntungan material juga menyenangkan publik secara umum, karena penemuan-penemuan tersebut mempermudah dan memperindah kehidupan ini. Kedua, ciri khas akal manusia yang lebih cenderung untuk memikirkan hal-hal yang tidak kompleks. Ini disebabkan oleh sifat akal itu sendiri, yang, seperti dinyatakan oleh Bergson, tidak mampu mengetahui hakikat hidup. Dan ketiga, multikompleksitas-nya masalah-masalah yang dihadapi manusia. Kedua faktor yang terakhir, menurut Alexis Carrel adalah faktor-faktor permanen, sehingga tidak berlebihan jika kita mengambil kesimpulan bahwa setiap orang di antara kita terdiri dari iringan-iringan bayangan di mana berjalan di tengah-tengahnya suatu hakikat yang tidak diketahui. Demikianlah pendapat seorang ahli bedah kelahiran Perancis yang bertekun selama lebih kurang tiga puluh tahun pada penyelidikan ilmiah pada yayasan Rockefeller di New York. |